Rabu, 10 Februari 2021

Mbak Yayu Terangsang


NagaQQ - Namaku Dodi, aku akan menceritakan kisa seksku. Umurku sekrang 19 tahun Aku tinggal besama ayahku dan Mbak Yayu Didusun Kembang Desa.


Ketika itu kami sedang Camping Didaerah Pegunugan yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Kami bertiga sengaja pergi camping sekalian ingin melepas pikiran jenuh kebetulan aku juga membawa teman-temanku.


BACA JUGA :  Memuaskan Nafsu Mantan Adikku


Sesampainya di Pegunuggan Villa Gading Aku dan Teman-temanku Malam itu aku dan teman-temannya menginap di rumah Pak rudi. rudi meminta remaja kampung untuk tidak membantu apapun pada anak-anak kota itu selama kamping agar mereka mandiri sesuai pesan pak Joko.


Ketika pagi-pagi buta tiba Aku dan temanku mempersiapkan perlalatan masak dan beebrapa bahan makanan untuk kami pakai didaerah pegunungan yang lumayan jauh dari dusun tempat teman ayahku.


“Ya elah.. Kayunya pake nggak ada lagi, Dimana Lagi mau nyari kayu buat api” Memet kesel

“Iyahnih sono gih lu cari kayu met, Keburu kita kelaperan lagi” kata Gali menyuruh memet

“Yeh malah nyuruh gua, Barengann jangan mau enak sendiri” kata Memet.


Kuputuskan kami semua pergi untuk mencari kayu untuk kami jadikan bara api ungun dan juga alat alat yang perlu kami gunakan juga


Ketka kami akan meninggalkan tenda tersebut datanglah Seorang wanita yaitu Keponakan Pak Rudi menghampiri kami dari dan bertanya


“Hey! Kamu Mau kemanaa Dod?”

“Mau nyari kayuu kehutan mbak, sekalian mau mandi mandi disungai” katanku

“Yaudah dek hati hati yah dod, Pulang jangan sore2” ujar mbak

“Iyahh mbak, pigi dulu yah” kata Titin.


Yayu berpenampilan khas wanita desa, pakai kain dan baju berkancing dari kain bahan kebaya. Wajahnya Cantik Tubuhnya Sangat subur dan semok. Tingginya 165 cm dengan porsi tubuh yang ideal, Payudaranya membusung menantang, pinggul lebar dan pantatnya padat terbentuk dibalik kain yang dipakainya.


Sesampainya Kami disungai tanpa banyak basa basi langsung nyebur ke sungai dengan riang.


“Eh.. Dodii Lepas dulu pakainya, ntar masuk angin basah semua ” katanya melihat Andi dan kawan-kawannya mencebur tanpa melepas pakaian.

“Wah.. telanjang pakai kolor aja nggak apa-apa kan mbak? Kan sepi disini?,”

“Ya ndak apa, wong nggak ada yang lihat di tengah hutan gini. Lagi pula warga desa jarang ke sini karena sungai ini di kawasan hutan, mereka lebih dekat ke sungai di desa,” kata Yayu,

“Mbak Titin… mbak ikutan mandi dong.. biar rame..,” teriak Dodi

Dodi naik keatas dan menarikku turun kesungai akhirnya Semua Pakaianku basah kuyub

“Aduhh kan pakaianku jadi basah semua” Yayu merenget sebel.

“yasudah lepasin aja pakaiann, mumpung matahari masih terik juga tuh” kataku

“Iya mbak. Bajunya dijemur aja biar kering, jadi pas selesai mandi bisa dipakai lagi,”tambah Andi.


Mbak Yayu pun melepaskan baju dan celananya dan terpangpanglah Bongkahan toketnya yang dibalut dengan bra kecil yang hanya menutupi setegah lingkaran payudaranya dan melihat kearah bawah memek yang tebal dan ditumbuhi bulu2 kemaluan halus yang membuat gairah dodi semakin memuncak.


Setelah itu dodi perlu bermain dengan temannya yang lumayan agak jauh dari tempat Mbak Yayu Berendam dan mencuci pakaianny, 10menitan berlalu dari juah tampak dodi sedang berjalan menuju tempatnya Mbak Yayu.


Dodi pun menghampiri Mbak Yayu  yang sedang mencuci pakaiannya yang sudah basah itu, sedang asik menyuci tau tak taunya Dodi dari belakang datang menghampirinya


“masih lama nyucinya mbak…,” kataku

“Iyah nih bentar lagi, tinggal nyuci Bra Dan CD aja kok dek” kata mbak Yayu malu malu

“Sini saya bantuin mbak,” dodi merangkul mbak Yayu dari belakang sambil tanganya membantu mencuci pakaian mbak Yayu Tapi…

“Sudahh Dod tidak usahh, Sudah sana kamu main aja dulu ntar lagi juga mbak siap” sambil ngeliat melepas tangan Dodi dan Pantat Mbak Yayu yang masih terbalut CD tipis pun bersentuhan dengan kontol dodi.





Mbak Yayu  merasakan tersentak saat kontol dodi yang sedang mengacung bergesekan terus dengan pantat mbak Yayu.


“Awww Itu kamuu dek kok digesek”kin sama pantat mbak sih” Mbak Yayu kegelian

“Abisnya Mbak banyak gerak sih jadinya kegesek terus sama punya Dodi,” kata Dodi semakin mengesek kontolnya dibelahan pantat Yayu.

“Yaelah, Kontol kamu mau digesekin sama punya mbak? Bilang aja!” Cetus mbak Yayu dnegna jutek.

“aah..Anu.. Iyahh mbak Abisnya body mbak mengoda sekali buat aku horny” jawab dodi menatap Yayu sambil mengocok kontolnya pelan2

“Yauda yuk cari tempat sepi dan jauh dari teman-temanmu ntar mbak tunjukin sesuatu” sambil berjalan menuju batu yang lumayan besar.


Setelah sudah lumayan jauh dari tempatku tadi, kamipun berada dibalik batu yang lumayan besar menutupi kami berdua, Langsung tanpa basa basi Mbak Yayu membuka Bra Dan CDnya. Ooohh Shiitt Toketnya Menantang Sekali dengan hiasan Pentik berwarna merah mengkilat Tak luput juga dengan memeknya yang tembem dan dilebati oleh bulu jembut


“Ayoo matanya nakall, ngelihatin apa?” Kata mbak Yayu sambil mengosok bulu kemaluannya dan memeras2 toketnya.


Dodi pun mendekati Mbak Yayu dengan santai dan langsung di lumat bibir tipis nan mungilnya, Yayu pun tak mau kalah dengan nya langsung membalas lumatan bibirnya namun lidah dodi berhasil menjilat lidahku dan menghisapnya akupun tak kalah ganasnya. Sembari berciuman mesras tanganku pun tak kutinggal diamkan kukocok kontolnya yang panjang dan besar.


“Kamu pandai juga mengagahi wanita sayang” kata Yayu yang melepas lumayannya dan berjongkok dihadapan kontolku.


Aku hanya diam saja melihat perlakukan Yayu denganku tanganku kuletakan diatas kepalanya dan mengelus rambutnya.


“Aduh Dod Kontol kamu besar jugayah, Penuh dong ntar memek aku” Canda Yayu .


Yayu pun mengesek-gesek kepala kontol dodi dengan puting Yayu yang ternyata sudah mengeras dan kontol dodipun dijepit oleh toketnya dan di kocok.


“Ooouhh Mbbak Enaak Bangett, Kayaknya mbak hyper sex banget yah” kataku

“Sudah nikmatin aja sayang, Kamu bakalan puas dapaetin tubuh mbak” katanya tersenyum manis.


Diarahkan kontolku kemulutnya dikulumnya dari kepala kontolku sampai ke biji2ku dihisap dia nikmat sekali hisapan Yayu seperti janda yang sudah berpegalaman membuatku melayang layang.


Saat Titin terlihat sibuk mengawasi temannya, Hilman menggunakan kesempatan itu, ia semakin nekat meremasi susu Titin.


“Ooouh oohh sshh Ennakk sekalii mbakkkk! ouughh,” kataku sambil tangaku memaju mundurkan kepalanya.


“Enghhmm.. Srruppht Srruppp sshhtt Sruuppp” Yayu tanpa bicara terus menyedot kontol besar dodi dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sibuk mengocok memeknya yang terkadang meneteskan cairan.


“Ehhy Dod mbak udah nggak tahan nih, Lihat ni memek mbak udah becek banget” Yayu sambil nunging menunjukan memeknya yang sudah merah merekah.


Aku spontan jongkok dan mendekap bongkahan pantat besar dan montok Yayu lalu kujilat memeknya dengan sedap dan nafsu yang sudah mengebu-ngebu kuseruput memeknya sampai ke klistrorisnya sesekali lidahku mengobok-ngobok lubang kewabnitaanya.


“Aaah Oooghh sshht Ehmm Aahh Aaah Enakk bangeet sayang teeruss hisap memek mbakk”Mbak Yayu merancau sejadinya karena memeknya kuhisap.


Karena tidak sabaran lagi menikmati rasa memek Yayu , cepat kulepaskan celana dalamku dan mengacungkan kontolku didepan pantatnya, masih kugesek dari ujung anusnya sampai ke lubang memeknya Yayu yang membuat Yayu kegelian. Akhirnya kutekan dengan sekali dorogannya Blessshhh!! Masuk semua kontolku dimemeknya yang ternayta mbak Yayu sudah tidak perawan tapi memeknya masih enak dan sempit.


Dengan perlahan kugoyang kumaju mundurkan pantatnya kuhujam dengan kuat dan cepat memeknya yang nikamt itu memebuat dia mendesah tak karuan.


“Aarrhh sakitt, oooghh Sssht enakkk Oooh Sayanng Fuckk Mee Aawhh” rintih Yayu takkaruan karena menikmatinya.

“Emhh.. oh.. ini wajar dik.. normal. Kan di pelajaran biologi juga adik sudah tahu..,” kata Titin.


Tanganku meremas-remas payudanya yang terombang ambing karena sodokanku yang super kuat dan cepat membuat tubuhnya terhentak, kumainkan toketnya dan pentiknya dengan tangan kanan sednagkan tangan kiriku mengosok-gosok klistorisnya yang mengeras.




NAGAQQ: AGEN BANDARQ BANDARQ ONLINE ADUQ ONLINE DOMINOQQ TERBAIK


“Aahh..Aahh Enakk Sshht oooh terusss Mbakk bentar lagi mau keluar nih dod Aahh” Mbak Yayu mempercepat goyangannya mengimbangiku sambil mendesah tak beberapa saat tubuhnya bergetar hebat dan mengelinjang.

“Aduhh.. mbaakkhh enakhh.., Mbakk Keluaar nohh sayangg Ooohh”Jeritan mbak Yayu .

“Ahh mbakk cepat bener Orgasmenya, Dodikan belum tuntas nih jadi nangggung” Kataku.

“Yasudah sayang Kentot terus memek mbak, mbak masih kuatkok orgasme sekali lagi” Kata mbak Yayu sambil memaju mundurkan pantatnya yang masih tertancap kontolku.

“ooohh Mbak Yayu memekmu enak banget, Aku siapp Entot kamu tiap harii Aahh… Aahh.. Sshht.. Aaahh” Kataku tidak beraturan lagi sambil kutampar-tampar pantatnya yang semok sekali “Plakk!Plakk!Plakk!”.


Yayu hanya diam dan menikmati hujaman demi hujaman kontol dodi dimemeknya, Akhirnya setelah 10menit berlalu dodipun mengencangkan permainnnya dan menjeritt.


“Aaaaaahhhh Akuu keeeluuarr nihhh, Crott didaaalamm Sajaa yahh” Kata dodi dengan tubuh bergetar dan meremas payudara ayu dengan kencang yang membuat Yayu juga menjerit sejadinya.


“Nngghhh Aaaahh.. sakitt…. iyahh didalam aja Aaaahhhh Sshhttt Aaahhh” Yayu merasakan kenikmatan kontol dodi yang mentok dirahimnya yang membuat Yayu menekan dalam dalam memeknyA dikontol dodi.


Akhirnya mereka berdua melepaskan hasrat yang sudah lama dipendam dan akhirnya kesampaian juga ngentot dengan mbak Yayu sih memek nikmat yang mengoda, Dodi Tetap masih menancapkan kontolnya sedalam mungkin dimemeknya dan terus menghentakan pelan agar semua cairanya masuk ke rahim Yayu sambil terus meremas-remas kencang toket Yayu.


Yayu hanya diam dan menahan Rasa nikmat bercampur sakit samnbil mengigit bibirnya. Sesudah itu mereka memakai semua Dalaman mereka dan balik ke temanteman dodi tetapi dodi pun masih sering nakal tanpa sepengetahuan temannya dodi pun sering mengobel memek Yayu dan menghisap toket Yayu yang membuat Nafsu Yayu kembali merangsang.


NagaQQ

Kamis, 04 Februari 2021

Memuaskan Nafsu Mantan Adikku



NagaQQ - Namaku Mitha aku ingin menceritakan pengalaman seksku. Aku hanya berdua dirumah dengan adikku karena kedua orang tuaku sedang pergi ke jogja karena mereka ada urusan keluarga. Hari sabtu pagi aku sedang berada dikamar dan tidak ingin bangkit dan pergi kemana-mana karena aku ingin bermalas-malasan dikamar tanpa diganggu. Kunyalakan laptopku akupun asik bermain sosmed tiba-tiba ada yang chat dan menanyakan kabarku


BACA JUGA :  Bercinta Dengan Ibu Kepala Sekolah


Setelah kulihaat ternyata dia adalah Mantan pacar adikku yang memang sudah lama aku tidak pernah bertemu, Dia menanyakan bagaimana kondisi Adikku “Putri” sekarang lalu aku menyuruhnya datang saja kesini sendiri dan berjumpa dengannya.


Ketika aku sedang menjelajahi sosmedku ada seorang temanku yang mengirimkan Filmporno yang membuatku penasaran katanya ini film terbaru, lalu kuputar filmnya dilaptopku, Aku sudah biasa karena aku juga sering menonton film porno terkadang kalau sudah horny yah cuman bisa masturbasi dikamar


Birahiku mendadak mengebuh-gebuh. Kuletakan laptopku diatas ranjang dan kubuka semua pakaianku karena aku sudah tidak tahan lagi, karena melihat adengan dimana wanita jepang itu sedang dirangsang oleh pria bule dengan menjilat memeknya dengan brutal dan disedot2 membuat wanita jepang itu mengelinjang tak karuan karena menerima rasa nikmat


Kugosok-gosok Klistorisku kuberi sedikit ludah bagian lubang memekku agar sedikit licin. Kumasukan jariku kedalam lubang memekku kukocok, Sensasinya benar-benar mengagumkan! Tangan kananku makin cepat mengocok-ngocok, Dan tangan kiriku sibuk meremas-remas toketku yang lumayan besar


“Oohh.. Ooohh.. Aaahh Ssshhhtt ” desahku yang telah terasa nyaris capai orgasme.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka tanpa diketok aku menoleh dan kulihat ternyata Bowo mantan pacar adikku aku sontak kaget bercampur malu karena akusedang melakukan masturbasi dilihat oleh lelaki. Sigit langsung masuk kekamar dan menenangkanku


“Wahh, MaaffKakk Sigit nggak tau kalau kakak sendiri”

“Aaaahhhh Kamu kenapaa nggak ngetok pintu sih?”

“Iyah kak kirain putri didalam sama kakak makanya sigit langsung masuk aja”


Aku langsung bergegas mencari baju dan celanaku tadi yang berserak tampa pikir panjang aku bangkit dan menuju kamar mandi


“udah kamu duduk aja dulu, kakak mau kebelakang bentar”

“Iyah kak” katanya sambil tunduk


Aku langsung mengarah kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah berlumuran cairan orgasmeku, Aku baru teringat CD dan Braku masih tertinggal dikamar akupun segera berlari dan membuka pintu kamarku perlahan.


Aku terkejut melihat keadaan Sigit sudah telentang dengan celana setegah terbuka dia menciumi celana dalamku yang masih ada sedikit sisa orgasmeku,

aku masuk perlahan kedalam dan mengunci pintunya lalu kubuka handukku dan sekarang aku dengan posisi sudah telanjang


Aku jongkok sambil mengocok memekku sambil melihat Sigit mengocok kontolnya yang lumayan besar dan panjang membuat gairahku semakin bergejolak


“Aaaaahh Ennnakk Oooohhh…. Aaaahhhhhhh…. ” saya mendesah panjang rasakan nikmat yang menempa diriku.


“Eeh.. Ka..kk Maa..fiin Sigit uudah lancan..gg” katanya terbata-batag sambil menutupi kontolnya yang sudah mengacung


“Waduh Kayaknya Kontol kamu udah tegang banget tuh, Sini kakak Bantuin isepin biar makin keras” tanyaku tidak sabar.


Akupun bangkit dan mengapai kontol besarnya langsung saja kusedot

“Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh! Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh…”





“Aaahh..Ssshht.. ooohh.. Ennakk Bangett kak… oooh ” desahnya sambil mengangkat pingangnya karena nikmat


Saya makin bernafsu mengisap penisnya, kadang waktu saya juga menjilat buah zakarnya hingga mulai mendesah.


“Kontol kamu enak banget Git mana gede lagi ”

“Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh! Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh…”

“Sedoott kakk, jilatin kepala kontolkuu”


Kuikuti permintaannya, Kusedot sedot kuat batang sampai kepala penisnya membuat dia meliak-liuk keenakan kukocok terus dan kusedott akhirnya diapun Orgasme


“Oooohh ooohh Sshht Ak..uu Maauuu Keel..uuarr kakkk Oohh” Desahnya tangannya menekan kepalaku agar lebih dalam lagi menyedotnya

“Kelu..arin dida..lam mulut kaka aja”

“Ahh… Mmmh..Slurp… Slurp Sperma Kamu enak banget Git” desahku keenakan.


Dicabut kontolnya darimulutku lalu diangkat tubuhku dibaringkan diatas kasur aku ditindinya mulutnya turun ke Toketku menjilati ke-2 putingku sembari terkadang diisap dengan kuat.


“Auwh… Eehnnakk… Aaah…! ” desahanku makin kencang.


Saya menggelinjang, namun tanganku malah makin menghimpit kepalanya supaya lebih kuat kembali menghisap pentilku. Sejurus lalu lidahnya turun ke arah vaginaku. Matanya seperti ingin copot lihat vaginaku yang telah tidak tertutup apa-apa kembali.


Saat jari jarinya mulai membuka kedua bibir memekku yang becek sudah dia terkesima dengan memekku yang sudah merah mereka dengan itil ku yang mengeras langsung di toel-toelnya dengna jari telunjuk yang membuatku mengelinjang


“Sshhhh…” desahku dengan agak gemetar saat jarinya memainkan itilku memekku.


Jari tengah serta telunjuknya menyodok serta mengorek-ngorek vaginaku, saya meringis saat rasakan jari-jari itu bergerak makin cepat mempermainkan nafsuku. Sesaat selangkanganku semakin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk semakin cepat. Sampai satu waktu birahiku telah mulai naik, mengucurlah cairan pra-orgasmeku. Saya mengatupkan pahaku menahan rasa geli.


“Eemmhh… Kamuu jago banget buat aku orgasme… aaahhh ”


Sudah puas dengan jarinya, aku melihat Sigit sudah mulai menjilati bagian paling sensitiveku. Sigit membuka kedua bibir memeku lebar2, lalu dijilatnya dari bawah lubangku sampai keatas klistorisu. Bukanlah cuma bibir vaginaku yang dijilatinya, namun lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasa-rasanya benar-benar nikmat, terkadang menggigit kecil klitorisku atau kadang waktu dihisapnya dengan kuat. Tangannya juga selalu mengelus paha serta pantatku yang percepat naiknya libidoku.


“Aaahhhh Ssshhhttt! Uuuhh.. Eenak… Terus…! ” jeritku.

“Slurp… Slurp… memek Kakakk gurih banget… Mmmh… Slurrrppp…” ujarnya disela-sela menjilati vaginaku yang telah mulai basah.


Dia selalu menjilati vaginaku hingga selanjutnya saya tidak tahan kembali. Tidaklah sampai lima menit, badanku mulai mengejang, rasa nikmat itu menyebar dari vagina ke semua badanku.


“Aaaaaaaaaahh…” saya menjerit panjang rasakan nikmat pada semua badanku.

“Gitt, Masukin sekarang yah kakak udah nggak tahan lagi”


Sigit duduk diranjang dan mengangkat tubuhku duduk diatas pahanya dengan kontolnya yang mengacung perlahan diarahkan kontolnya kememekku dan ditekannya.


“Uuhh… Nnggghhh…! ” desisku waktu penis yang sangatlah keras itu mulai masuk menerobos lubangku.

“Mbak tahan yah soalnya memek mbak masih sempit walah udah nggak perawan sih” ujarnya sembari tersenyum nakal.

“Aaaauw… pelan sayang pelangg” desahku sedikit kesakitan sambil memeluknya.

“Auuhh..Sssh…Enaakk Gittt” desahku yang makin rasakan nikmat.


Mata Sigit merem-melek menahan nikmat. Lantas dengan satu sentakan kuat penisnya berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku hingga menyentuh dasarnya.


“Aaaahh… Aaawhhhhh Eeennakk Bangett sayangg” teriakku.


Aku melonjakkan pantatku karna rasakan kesenangan yang menakjubkan. Kurasakan cairan hangat vaginaku mengalir di pahaku.


“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb! ” nada penisnya tengah keluar masuk di vaginaku.

“Aakh…! Aaaakh…! Nikmaaat banget… Enakakkk”




NAGAQQ: AGEN BANDARQ BANDARQ ONLINE ADUQ ONLINE DOMINOQQ TERBAIK


Aku menjerit-jerit karna rasakan nikmat yang menakjubkan waktu itu. Vaginaku yang telah basah saat ini dimasuki dengan lancar oleh penis  yang begitu tegang itu.


“Oohhhh.. lebih dalam lagii sayang aaahh” jeritku kesenangan.


Kakiku kukangkangkan pas diatas penisnya, dengan birahi yang mencapai puncak kuarahkan batang penis  untuk masuk kedalam liang vaginaku.


“Ooooooh..!Ooooooh. Sssshhhhttt.Ooooooh..Ooooooh.. ” saya menjerit keenakan.

“Ouuh.. Memek Teteh enak bangeeet…! Penis  terasanya dipijat…” desahnya.

“Uggh.. Uuuh..Jagoo banget kamu”


Karpet di ruang ini juga telah basah oleh cairan sperma Sigit dan cairan orgasmeku. kami masih tetap sama-sama memompa, merintih, melenguh, serta mengerang. Aku menghujamkan vaginaku berulang-kali dengan irama amat cepat. Aku terasa makin melayang-layang. Bagaikan kesetanan saya menjerit-jerit seperti kesurupan. Pada akhirnya sehabis 1/2 jam kami bergumul, saya terasa semua badanku bergetar hebat.


“Mbakkkk siggiitt udahhh mau keluar nih Aaahh” erangnya panjang sembari meringis.

“Aaaaaah… Teteeeh juga telah ingin keluar Land…!! Kita keluar keduanya sama Land…!! ”

“Oooohh… Teeehhh… Aaaaaahh…!! ”  berteriak panjang.


Goyanganku makin kupercepat serta ketika yang berbarengan kami berdua sama-sama berciuman sembari berpelukan erat. “Cret.. Cret.. ” kami berdua mengerang dengan keras sembari nikmati tercapainya orgasme ketika yang berbarengan. Aku bisa rasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku,


NagaQQ

Rabu, 03 Februari 2021

Bercinta Dengan Ibu Kepala Sekolah



NagaQQ - Perkenalkan diriku terlebih dahulu namaku Dodi. Ketika kisah ini terjadi aku berumur kira-kira 18 tahun, aku termasuk seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan baik di kampus maupun diluar kampus termasuk di didalamnya kegiatan Pramuka yang memang sejak kecil aku suka.


BACA JUGA :  Bercinta Dengan Atasanku


Nah karena kegiatan Pramuka inilah terjadilah kisah yang sampai saat ini masih aku kenang. Untuk wajah memang aku nggak jelek-jelek amat malah terbilang agak cakep itu kata temen-temenku. Dan terbukti ada beberapa cewek yang naksir kepadaku.


Hingga suatu saat aku mendapat surat yang berisi permintaan bantuan untuk ikut menjadi salah satu pembina di SD Negeri di dekat rumahku. Murid-murid SD itu akan melaksanakan perkemahan sabtu minggu atau persami. Merasa mendapat kepercayaan dan hitung-hitung untuk tambahan uang saku maka dengan hati senang aku terima tawaran tersebut. Lagipula aku adalah salah satu alumni dari SD tersebut.


Kami berangkat ke lokasi hari sabtu pagi, dan sampai ke lokasi kira-kira jam 10. Setelah sampai lokasi kami mendirikan tenda dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kegiatan persami. Kegiatan demi kegiatan kami lakukan, dan ternyata anak anak terlihat suka padaku karena mungkin dimata mereka aku lucu dan menarik.


Itu semua mungkin karena aku aktif di berbagai organisasi sehingga aku pandai mengatur suasana. Permasalahan yang ada adalah air. Lokasi kami berkemah agak jauh dari rumah penduduk. Air yang kami dapatkan berasal dari sungai yang mengalir di dekat lokasi. Dan untuk mandi kami harus kerumah penduduk yang ada disekitarnya walaupun agak jauh.


Hari semakin sore aku sedang bersantai di tenda pembina sambil mengawasi anak-anak terlihat dari kejauhan sebuah mobil kijang berhenti dan turun seorang wanita paruh baya. Setelah aku perhatikan betul ternyata yang datang adalah Bu Anita, beliau adalah kepala sekolah SD tersebut.


Beliau dahulu adalah Ibu guruku, beliau orangnya supel namun kewibawaannya tetap terlihat. Yang aku herankan adalah beliau tetap terlihat cantik diusia yang aku taksir sudah kepala lima. Tubuhnya tetap terawat tidak seperti wanita pada umumnya pada usianya.


Para guru dan para pembina mendekat untuk menyalami termasuk diriku bergegas berjalan mendekatinya untuk menyalaminya.


Aku menyalaminya sambil basa-basi bertanya 

“Koq cuma sendirian Bu Anita?”“Eh.. iya Dod bapaknya anak-anak sedang ada acara di Semarang” Jawab Bu Anita.

“Kamu tadi tidak menjemput Bu Anita” Sergah Pak Budi yang berjalan beriringan dengan kami.

“Kan Bu Anita sudah bawa mobil Pak” Aku menjawab sekenanya.


Kami berjalan beringan menuju tenda para pembina. Setelah sampai di tenda Bu Anita tampak berbicara serius sambil duduk diatas tikar dengan Pak Budi. Tampaknya hal penting yang perlu dibicarakan mengenai acara persami itu. Aku menjadi agak tidak enak untuk berlama-lama di dekat mereka. Setelah minta ijin aku berjalan menjauh dari mereka.


Dalam benakku terlintas pengakuan bahwa Bu Anita memang masih menarik walau tampak sedikit keriput di leher namun itu malah membuat Bu Anita tampak lebih anggun. Rambutnya lurus sebahu hitam walau ada beberapa helai yang tampak sudah putih, kulitnya yang putih bersih tampak terawat.


Anganku terus mengalir bentuk tubuhnya yang ramping namun padat berisi, bongkahan bokongnya tampak jelas tercetak dibalik rok spannya begitu juga buah dadanya indah. Perutnya memang agak besar namun kencang.


Gila.. aku membayangkan orang yang dahulu pernah menjadi guruku. Ini tidak benar. Tapi aku aku tidak bisa memungkiri bahwa Bu Anita memang masih sintal.


Pada malam harinya diadakan acara api unggun yang kemudian dilanjutkan dengan acara jurit malam. Aku kebetulan mendapat untuk menjaga semua tenda. Kebetulan sekali sebab aku merasa lelah karena sehari sebelumnya ada kegiatan di kampus.


Yang lebih kebetulan adalah ternyata Bu Anita dan 2 guru wanita yang lain nggak ikut acara jurit malam. Setelah mengecek semua tenda aku berjalan mendekat kearah Bu Anita yang sedang duduk sendiri di depan tenda pembina. Tampaknya kedua rekannya sudah terkantuk dan tidur didalam tenda.


“Belum ngantuk Bu?”aku memulai pembicaraan sambil duduk berhadapan dengannya.

“Belum Dodi.. masa Ibu enak-enakan tidur padahal tadi kan Ibu datang terlambat” Bu Anita menjawab.

“Ya nggak apa-apa, Ibu kan sibuk juga” Aku menyahut.“Gimana kuliahmu” Tanya Bu Anita.

“Lancar, Bu Anita belum akan pensiun” Aku memancing pertanyaan untuk mengetahui umur sebenarnya.

“Tinggal tiga tahun lagi Dodi” Bu Anita menjawab.


Pasti wanita ini umurnya lebih dari 50 tahun, namun koq masih menggairahkan. Mataku sekali-kali mencuri pandang menikmati keindahan tubuhnya.


Kami mengobrol agak lama sampai Bu Anita minta diantar ke sungai karena kebelet buang air kecil. Aku bergegas mengantarnya sampai pinggir sungai yang agak curam.


Sambil memberikan senter aku berkata, “Saya tunggu disini ya Bu Anita, ini senternya hati-hati jalannya agak licin”

“Iya.. eh jangan ngintip lho” Katanya sambil bercanda.


Ketika akan melangkah Bu Anita terpeleset otomatis tanganku menggapai tangannya tanganku yang satu menggapai badannya menahan agar beliau tidak jatuh. Namun tidak disangka tanganku mendarat tepat di salah satu gunung indahnya. Dia kaget aku juga kaget.


“Maaf Bu Anita, nggak sengaja” Aku berkata.

“Eh.. nggak apa-apa” Sahutnya juga agak salah tingkah.


Sambil berjalan meniti jalan setapak akhirnya dia mencari tempat yang agak tersembunyi. Namun karena sinar rembulan tampak samar-samar gerakan tubuhnya dalam melaksanakan kegiatannya. Tampak dia memelorotkan celana panjangnya kemudian CDnya lalu berjongkok.


Aku bertanya dalam hati mimpi apa aku semalam sehingga aku memperoleh keuntungan dobel pertama memegang buah dada indah yang kedua bisa melihat bokong dan paha walaupun samar.


Tak terasa celanaku semakin sempit karena senjata kesayanganku menggeliat. Tanganku merabanya dan membuat remasan-remasan kecil. Tak puas dengan itu aku mengeluarkan batang penisku sehingga dapat berdiri bebas mengacung. Aku yakin Bu Anita bakalan tidak akan melihat polahku.


Sepertinya Bu Anita sudah selesai buang air kecil ketika akan naik ke atas aku ulurkan tanganku dan menariknya.


Aku minta Bu Anita berjalan didepan dengan alasan aku mengawal kalau ada apa-apa. Namun bukan karena itu aku bisa membuat bebas kelaminku terjulur keluar dan mengacung. Sensasi ini aku nikmati sampai ke tenda pembina. Kami lanjutkan ngobrol sampai akhirnya acara jurit malam selesai.


Malam sudah larut bahkan menjelang di hari kami pembina dan guru putra tidur terpisah dengan pembina dan guru wanita. Tetapi bayang-bayang kemolekan wanita paruh baya itu masih mengganggu pikiranku.


Mata ini rasanya sulit terpejam. Kemaluanku rasanya juga nggak mau ditidurkan, tapi akhirnya aku sadar bahwa wanita yang menggelorakan hasrat jiwaku adalah mantan guruku yang tak mungkin aku akan melampiaskan kepada beliau. Akhirnya anganku kubawa tidur.


Sampai pada pagi harinya aku terbangun oleh suara riuh anak-anak yang sedang melakukan senam pagi. Aku cepat-cepat bangun dan cuci muka kemudian membantu pembina lainnya. Setelah acara pagi selesai aku beres-beres pekerjaan yang lain yang masih harus aku kerjakan. Sementara anak-anak pun juga sibuk mandi di sungai.


Pembina dan guru antri mandi di rumah penduduk yang agak berjauhan. Tampak Bu Anita juga belum mandi karena beliau juga sibuk mengawasi anak-anak.


ekitar jam 09.00 pagi semua tugas sudah selesai maka aku bergegas mengambil peralatan mandiku. Namun terdengar dari kejauhan suara yang memanggilku.


“Dodi kamu mau mandi ya”Setelah aku toleh ternyata suara itu bersal dari Bu Anita.

Langsung saja ku jawab singkat, “Iya.. Bu Anita”

“Kalau begitu sama-sama dong.. Ibu juga belum mandi” Dia berkata.

Bagai disambar petir di siang bolong mendengar tawaran itu tanpa ragu-ragu aku mengiyakan. “Iya Bu Anita”


Karena kamar mandi-kamar mandi yang ada di sekitar rumah penduduk tampak sudah penuh maka aku menawarkan pada Bu Anita sebuah sumur yang ada di tengah kebun penduduk.


“Sebaiknya kita mandi disana saja Bu Anita, tempatnya juga tertutup koq” Aku berharap dia mau karena ada kesempatan untuk berdua.

“Yang benar lho Dodi.. tapi ya nggak apa-apa memang tempat yang lain sudah penuh”.

Kami berjalam beriringan menuju ketempat pemandian di tengah kebun itu. Sementara yang lainnya persipan untuk kegiatan pagi itu yaitu jalan-jalan berkeliling.


Sampailah aku pada tempat yang kami tuju. Setelah aku meletakkan peralatan mandiku aku memulai menimba air untuk keperluan kami berdua. Setelah bak terisi penuh maka aku persilahkan beliau untuk mandi dahulu. Tempat mandinya terbuat dari anyaman bambu ada beberapa lobang yang tampak.


“Silahkan Bu Anita anda mandi lebih dahulu” Aku mempersilahkan.

“Kamu tunggu dulu ya.. awas lho jangan.. ngintip” Katanya sambil tersenyum.

“Nggak Bu Anita.. tapi kalau kepepet kan nggak apa-apa” Kataku juga bercanda.

“Nakal kamu” Dia berkata sambil berkata masuk ke kamar mandi.


Aku mengamati dari kejauhan dan melihat satu persatu pakaiannya dilepas dan digantungkan diatas anyaman bambu itu. Terakhir aku lihat kutang dan CDnya yang berwarna biru muda dan coklat muda tersampir.


Hatiku semakin nggak karuan aku membayangkan pasti tubuh molek wanita yang pantas menjadi ibuku itu telanjang bebas, aku dengar suara air yang mengguyur tubuhnya. Aku mencari akal agar aku bisa menikmati keindahan tubuhnya.


Akhirnya aku mendekat dan berkata, “Bu Anita airnya kurang nggak”

Dari dalam bilik aku dengar suaranya,”Eh.. kamu koq ada disitu.. kurang sedikit Dod” katanya agak kaget.


Kesempatan datang akhirnya aku menimba untuknya lagi dan aku tuangkan ke saluran mengalirkan ke dalam bak yang ada di dalamnnya. Bu Anita masih melanjutkan mandinya maka aku putuskan untuk mandi diluar saja sambil berharap Bu Anita nanti selesai mandi dapat melihatku. Entah pikiran gila sudah memasuki pikiranku.


“Eh.. Dod kamu mandi diluar ya..” Terdengar dari dalam bilik.

“Iya Bu Anita kan bisa menyingkat waktu” Aku beralasan.


Sambil melihat sekeliling aku rasa aman maka aku lepaskan semua pakaianku kini tinggal celana dalamku. Sambil mengguyur badanku dari timba langsung aku sedikit mencari celah-celah agar aku dapat melihat keindahan tubuhnya. Benar dugaanku aku belum selesai madi dari dalam bilik sudah terdengar suaranya.


“Dodi sudah selesai belum?” Dia bertanya.

“Sudah Bu Anita” Aku menjawab walau aku belum selesai mandi. Memang aku sengaja.


Dan lihat pintu bilik mulai bergerak terbuka. Darahku terasa mengalir semakin kencang menduga apa yang akan terjadi saat Bu Anita melihat aku hanya memakai celana dalam.


“Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai” Dia melihatku agak terperanjat.


Raut mukanya tampak kelihatan merah. Dia agak tersipu setelah melihatku hanya memakai celana dalam. Aku bisa melihat dari ujung matanya dia melirik pada selangkanganku yang disitu tampak tercetak jelas penisku yang sudah tegang dari tadi seakan meronta keluar.


“Sana mandi di dalam masih ada airnya kok” Dia menyambung.

“Iya Bu Anita” jawabku sambil masuk ke bilik.


Perasaanku puas dapat memperlihatkan kejantananku pada wanita paruh baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh semakin berkecamuk. Kebetulan sekali jam tangan Bu Anita tertinggal di dalam bilik bambu ini.


“Bu Anita jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.


Aku menanti Bu Anita masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.


“Tolong ambikan Dodi masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to” Bu Anita berkata dari luar bilik.

“Ah Bu Anita nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku semakin berani menggodanya.

“Ih kamu kok masih nakal dari dulu” Dia berkata.

“Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung.


Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin menggebu-gebu ini. Aku lepas celana dalam ku hingga aku menjadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anita masuk kedalam bilik.


Bu Anita masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Dodi .. kamu.. nga.. nga.. pain”

Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.


“Itu Bu Anita jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai.





Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka dengan cepat aku tutup pintu bilik.


Melihat perilaku itu Bu Anita kaget sambil menatapku dia berkata, “Dodi apa-apaan ini”.


“Bu Anita jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.


Aku menanti Bu Anita masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.


“Tolong ambikan Dodi masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to” Bu Anita berkata dari luar bilik.

“Ah Bu Anita nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku semakin berani menggodanya.

“Ih kamu kok masih nakal dari dulu” Dia berkata.

“Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung.


Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin menggebu-gebu ini. Aku lepas celana dalam ku hingga aku menjadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anita masuk kedalam bilik.


Bu Anita masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Dodi .. kamu.. nga.. nga.. pain”

Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.


“Itu Bu Anita jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai.


Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka dengan cepat aku tutup pintu bilik.


Melihat perilaku itu Bu Anita kaget sambil menatapku dia berkata, “Dodi apa-apaan ini”.

“Maaf Bu Anita.. ta.. pi.. Ibu sangat menarik bagi saya” aku semakin berani tanpa memikirkan akibatnya.

“Kamu.. sudah gila ya..” Dia berkata.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut.

“Aku sudah menduga kamu dari kejadian tadi malam, tapi kamu harus tahu bahwa Ibu sudah bersuami dan lagi Ibu kan sudah tua” Dia mencoba menyadarkan aku.

“Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan usia Ibu” Aku beralasan.

“Apa sudah kau pikirkan benar-benar” Dia menyahut.

“Su.. dah Ibu” aku berkata tanpa pikir panjang.

“Da.. sar.. kamu” Dia berkata lagi.


Aku mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Diluar dugaanku dia tidak menghindar atau meronta namun sebaliknya dia menyambut ciuman hangatku dan membalasnya. Ciuman kami semakin dalam lidah kami saling bertautan tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas bokongnya.


Tiba-tiba dia berusaha melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, “Sabar Dodi .. jangan terlalu bernapsu”


Dia mendorongku aku terduduk di pinggiran bak semen. Dia masih berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan dan pasti aku melihat dua bukit kembar yang masih tampah sekal.


Kini tinggal beliau hanya mengenakan kutang dan rok aku bangkit namun dia berkata, “Duduk dulu”.


Aku kembali duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan kini terpampang didepanku tubuh sintal yang aku angan-angankan.


Aku bangkit lagi namun dia kembali berkata, “Dodi .. aku suka dengan caramu menjeratku tapi ini harus menjadi rahasia kita saja”.


Dia berkata sambil meletakkan salah satu kakinya diatas bibir bak semen itu. Dadaku semakin berdegub kencang melihat pemandangan indah ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali.


“Tentu Bu Anita..” Aku menyahut.


Aku elus kakinya yang putih aku dekatkan wajahku dan mulai menciumi betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. Sampailah aku pada hutan yang rimbun itu dan lidahku mencoba menyibak mencari lobang yang paling dicari para lelaki.


Bilik bambu di tengah kebun menjadi saksi pergumulan nafsu dua anak manusia yang dipisahkan oleh status dan usia.


Aku jilati bibir vaginanya dengan penuh nafsu. Bu Anita mengerang menahan kenikmatan yang melanda dirinya. Aku tak peduli dengan keadaannya aku semakin gila mempermainkan lidahku didalam lobang vaginanya.


Tangan Bu Anita memegang erat-erat kepalaku dan menekan ke selangkangannya solah-olah mempersilahkan diriku untuk menelan barang berharga miliknya.


“Dodi .. ka.. mu.. ma.. sih.. nakal.. seper.. ti.. dulu.. ah” Dia berkata sambil merintih menahan nikmat.


Tampaknya lututnya tidak bisa lagi bertahan. Beliau menarik kepalaku agar aku menghentikan aktivitasku. Aku bangkit dan mendekatkan mukaku ke buah dadanya yang disitu tertempel buah anggur yang berwarna coklat muda tegang menantang.


Aku sedoti seluruh permukaan payudaranya, aku hisap putingnya yang indah. Bu Anita tampak merem-melek menikmati permainanku ini.


Tanganku meremas-remas bokong indahnya dan jariku mencari lobang duburnya, setelah ketemu aku mempermainkan jariku membuat tusukan-tusukan kecil dan mengobok-obok alat buang air besarnya. Bu Anita mengerang-erang dan aku merasakan lobang anusnya meyempit keras seolah ingin menjepit jariku yang tertanam di dalamnya.


Tampaknya Bu Anita ingin mengambil inisiatif, dia melepaskan pelukanku.


“Dodi .. ber.. baring.. lah.. pa.. kai.. handuk.. mu.. untuk alas” Dia berkata kepadaku dengan nafas tersengal.


Bagai kerbau ditusuk hidungnya aku lakukan apa kehendaknya. Aku berbaring dengan beralaskan handukku. Bu Anita berdiri mengangkang diatasku dan perlahan jongkok tepat diatas kemaluanku yang mengacung keatas. Tangannya membimbing penisku untuk memasuki lobang kenikmatannya.


Dan setelah tepat dia menekan kebawah sehingga.. bles.. keinginanku terlaksana untuk menikmati kehangatan benda yang terdapat di selangkangan wanita paruh baya ini.


Aku merasakan dinding kemaluannya keluar cairan yang mempermudah penisku tertanam. Kepala Bu Anita terdongak keatas dan kulihat bibir bawahnya. Tangannya yang satu berpegangan pada pinggiran bak semen. Aku hanya bisa merem melek menahan kenikmatan dari cengkeraman vaginanya.


Nafas Bu Anita semakin memburu seiring dengan gerakan erotis yang dilakukannya naik turun diselingi dengan perputaran pantatnya. Aku lihat buah dadanya terguncang-guncang. Pemandangan yang indah sekali. Wanita paruh baya ini ternyata pintar bermain sex.


Aku merasakan sensansi yang luar biasa. Rambutnya yang masih basah itu menjadi acak-acakan. Aku mencoba untuk bertahan agar aku tidak kecolongan keluar terlebih dahulu.





NAGAQQ: AGEN BANDARQ BANDARQ ONLINE ADUQ ONLINE DOMINOQQ TERBAIK


Gerakan erotis Bu Anita semakin cepat.


“Dodi .. uh.. Ibu.. ma.. u.. sam.. pai..” Dia berkata tersengal.


Aku tidak menjawabnya, gerakannya semakin tidak teratur dan akhirnya aku merasakan cengkeraman erat vaginanya, aku rasakan cairan yang mengalir memenuhi lobang vaginanya. Nafasnya tersengal dan beliau terkulai diatasku.


Aku rasakan vaginanya yang masih berdenyut. Aku usap punggung mantan guruku dan aku belai rambutnya yang terurai basah. Tubuhnya yang hangat menempel erat.


“Bagai.. mana.. Bu Anita..” Aku berkata.

“Ka.. mu.. hebat..” Bu Anita menjawab.


Mendengar jawabannya aku merasa sebagai seorang lelaki yang perkasa yang dapat membahagiakan seorang wanita. Perlahan beliau turun dari atas tubuhku, beliau tahu bahwa aku belum mencapai puncak. Dia berbaring disampingku, dia tersenyum kearahku.


Aku mendekatkan wajahku dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku bangkit, aku lihat dia sudah mengangkangkan kaki tampaklah kemaluannya yang basah merekah menanti benda tumpul yang aku miliki untuk masuk kedalamnya.


Perlahan namun pasti aku arahkan benda kebanggaan para lelaki yang aku miliki. Dan.. bles.. masuklah penisku kedalam vaginanya, aku tekan dalam dalam sampai pangkal kemaluanku. Bibir Bu Anita tampak terbuka merasakan kenikmatan yang kedua kalinya, aku tarik perlahan kemudian kemudian aku gerakan naik turun pantatku.


Gerakanku semakin aku percepat sehingga menimbulkan suara-sura erotis. Aku kerahkan tenagaku untuk menyodok barang istimewa mantan guruku ini.


Oh.. nikmat sekali seakan melayang. Aku rasakan darahku mengumpul di penisku seiring dengan gerakanku yang semakin aku percepat. Buah dadanya yang sekal indah putih terguncang-guncang karena sodokanku.


Akhirnya aku tidak dapat lagi menahan dan.. creet.. aku tancapkan dalam-dalam, aku semprotkan spermaku di dalam vaginanya. Melihat aku mencapai puncak Bu Anita melipat kakinya dan menekan pantatku erat-erat. Oh.. seakan aku terbang. Nikmat sekali.. aku rasakan sensasi yang indah sekali.


Serasa tulangku terlolosi lemas sekali aku terkulai diatas tubuhnya. Dia tersenyum manja kearahku.Aku cium mesra bibirnya. Kami berbaring berdampingan.


“Bu Anita.. Ibu masih hebat.. kapan.. kita.. lakukan lagi” Aku berkata kepadanya.

“Ih..”, Dia mencubit hidungku.

“Nakal.. kamu..”


Kami lantas berpakaian kembali karena kami takut nanti perbuatan kami diketahui oleh yang lain. Kami berjalan menuju kembali ke perkemahan kami.


NagaQQ

Selasa, 02 Februari 2021

Bercinta Dengan Atasanku


NagaQQ - Mbak Amelia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat.


BACA JUGA :  Bos Mila ku Yang Terangsang


Aku sendiri sudah termasuk staf senior. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya. Ia berasal dari sebuah perusahaan konsultan keuangan.


Usianya kutaksir sekitar 25 hingga 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat itu mulai terbina suasana dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.


Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin karena telah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam usia yang relatif muda, kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang melaksanakan apa yang diinginkannya.


Mbak Amelia selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku dapat melihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.


Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang sering dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.


Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Amelia untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku dapat melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya. 


Tapi mataku selalu terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan dapat kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Amelia.


“Jhony, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.


“Jhony, salahkah dugaanku?”


“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Amelia tersenyum sambil menatap mataku.


“Mengapa?”


Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.


“Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.


“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”


“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.


“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”


“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.


“Kompensasinya apa?”


“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”


“Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”


“Betis yang indah itu!”


“Hanya sebuah ciuman?”


“Seribu kali pun aku bersedia.”


Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.


“Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”


“Deal, my lady!”


“I like it!” kata Mbak Amelia sambil bangkit dari sofa.


Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.


“Periksalah, Jhony. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.


“Kau tidak ingin memeriksanya, Jhony?” tanya Mbak Amelia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.


Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Amelia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.


“Jhony, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.


Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Amelia yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.


“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.


“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya.


Mbak Amelia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia memakai G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.


“Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Amelia ke atas lututku.


Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.


“Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.


“Suka, Jhony?” Aku mengangguk.


“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”


Aku mengangkat kaki Mbak Amelia dari lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Mbak Amelia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalam kanannya. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Amelia mengangkat daguku. Aku menengadah.


“Kurang jelas, Jhony?” Aku mengangguk.


Mbak Amelia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.


Aku merinding. Karena ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalam lututnya. Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.


Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Amelia. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat kemulusannya.


Mbak Amelia menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.


“Suka Jhony?”


“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.


Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Amelia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Amelia mendorong kepalaku.


Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Mbak Amelia menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.


“Suka Jhony?”


“Hmm.. Hmm..!”


“Jawab!”


“Suka sekali!”


Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.


“Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Jhony,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.


Aku terkesima. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala.






“Suka Jhony?”


“Hmm.. Hmm..!”


“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.


Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak dapat berpikir waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Aku hanya peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak tangan yang akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung dan memenuhi rongga dadaku, kelembutan dan kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sudah sangat ingin kucucipi.


Di kolong meja, Mbak Amelia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku.


“Hanya lidah, Jhony! OK?”


Aku mengangguk. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Amelia terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.


“Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Jhony?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.


“Hm..!”


“Haus?”


“Hm!”


“Jawab, Jhony!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.


“Haus!” jawabku singkat.


Tangan Mbak Amelia bergerak melepaskan tali G-string yang terikat di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.


“Jangan diam saja. Jhony!” kata Mbak Amelia sambil menekan bagian belakang kepalaku.


“Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.


Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan di antara dubur dan bagian bawah vaginanya. Karena harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Amelia terpekik. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan Amelia hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus. Mbak Amelia menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas kehidupannku.


“Fantastis!” kata Mbak Amelia sambil mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan basah.


“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.


“Segar!” Mbak Amelia tertawa kecil.


“Kau pandai memanjakanku, Jhony. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir kewanitaannya.


“Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”


Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar dan haus untuk mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus dan ingin segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.


Kepala Mbak Amelia terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak Amelia di dinding kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.


“Ooh, ooh, Jhony! Jhony!” Dan ketika clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Amelia  merintih menyebut-nyebut namaku..


“Jhony, nikmat sekali sayang.. Jhony! Ooh.. Jhony!”


Ia menjadi Amelia. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Amelia menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.


“Jhony, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”


Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.


“Jhony! Hisap Jhony!”





NAGAQQ: AGEN BANDARQ BANDARQ ONLINE ADUQ ONLINE DOMINOQQ TERBAIK


Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Amelia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan dari vagina Mbak Amelia, dari pinggul yang terangkat agar lidahku terhunjam dalam.


“Oh, fantastis,” gumam Mbak Amelia sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.


Ia menunduk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.


“Aku puas sekali, Jhony,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang menatap sendu.


“Jhony.”


“Hm..”


“Tatap mataku, Jhony.” Aku menatap bola matanya.


“Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”


“Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.


“Jangan menunduk, Jhony. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”


Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap kembali cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.


“Kau memujaku, Jhony?”


“Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.


Mbak Amelia tersenyum manja sambil mengusap-usap rambutku


NagaQQ